PERSEDIAAN BARANG DAGANG
Latar Belakang Adanya Persediaan
Setiap entitas pasti memiliki persediaan khususnya Perusahaan dagang dan juga manufaktur, dalam pengelolaannya harus baik karena mengingat dalam penyimpanan persediaan barang dagang harus tepat dalam pengeluarannya sehingga tidak terjadi kadaluarsa pada persediaan yang akan dijual. Dalam pembahasan ini kita kan belajar mengenai bagaimana pengelolaan persediaan dampai ke pencatatan persediaan.
Persediaan sangat penting bagi Perusahaan dagang atau manufaktur karena sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya laba yang akan didapatkan.
Ruang lingkup persediaan menurut PSAK 14 tidak bisa dilakukan pada beberapa aspek pekerjaan diantaranya:
ü Pekerja dalam proses yang timbul dalam kontrak kontruksi, termasuk kontruksi jasa.
ü Instrumen keuangan yang diatur dalam PSAK 50 mengenai instrument keuangan penyajian dan PSAK 55 mengenai instrument keuangan pengakuan dan pengukuran.
B. Pengertian Persediaan
Menurut Buku Erlangga Akuntansi keuangan Fase F menerangkan bahwa Persediaan adalah asset lancer milik entitas berbentuk barang yang digunakan untuk kegiatan operasional (Dijual kembali tanpa mengubah bentuk) atau kegiatan produksi (Dijual setelah mengubah bahan baku menjadi barang jadi siap dijual).
Berdasarkan PSAK 14 bahwa klasifikasi persediaan dibagi menjadi dua menurut entitasnya yaitu pada Perusahaan dagang persediaan dicatat sebagai persediaan barang dagang sementara pada Perusahaan manufaktur terdapat 3 persediaan yaitu persediaan barang mentah, persediaan barang setengah jadi dan persediaan barang jadi.
Maka dari itu kita bisa menarik Kesimpulan untuk persediaan menurut PSAK 14 meiliki kriteria sebagai berikut:
a. Tersedia untuk dijual
b. Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut
c. Dalam bentuk bahan baku atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses peoduksi atau pemberian jasa.
C. Sistem Pencatatan Persediaan.
Setiap entitas memiliki kebijakan tertentu mengenai system pencatatan yang diguanakan dalam menghitung persediaan. Secara umum sistem pencatatan persediaan dibagi menjadi dua yaitu sistem pencatatan fisik dan system pencatatan perpetual.
1. Sistem persediaan fisik
System persediaan yang disebut juga system pencatatan periodic, pada system ini saat terjadi penjualan entitas tidak menjurnal harga pokok produksi (HPP) dan juga persediaan. Sehingga akibat dari hal itu perlu adanya perhitungan kembali persediaan yang tersedia pada akhir periode atau yang sering kit akela stock opname.
Adapun ciri dari persediaan pencatatan system fisik atau periodic adalah :
ü Pada akhir periode dilakukan perhitungan fisik persediaan tersisa untuk mengetahui saldo akhir persediaan.
ü HPP pada akhir periode dihitung terlebih dahulu untuk mengetahui persediaan yang digunakan caranya yaitu dengan cara menjumlahkan persediaan awal dengan total pembelian kemudian dikurangi dengan persediaan yang tersisa atau persediaan akhir.
Contoh jurnal penjualan metode fisik:
Kas di Bank / Piutang Rp. XXX
Penjualan Rp. XXX
Contoh Jurnal Return (Pengembalian barang) metode fisik:
Retur Penjualan Rp. XXX
Kas / Piutang Rp. XXX
Dalam pencatatan persediaan menggunakan metode fisik dibagi menjadi 4 cara pencatatan yaitu metode identifikasi khusus, metode fifo (Masuk Pertama Keluar Pertama), Metode Rata-rata sederhana ( Simple Average), dan Metode Rata-rata Tertimbang (Weighted Average).
a) Metode Identifikasi Khusus
Merupakan metode yang digunakan untuk memberi tanda pengenal untuk menunjukan harga per satuan sesuai dengan faktur yang diterima. Perhitungan Harga pokok persediaan dalam metose ini disesuaikan dengan harga beli sesungguhnya.
Contoh:
Persediaan Awal 1 Mei 2025
|
No |
Nama Produk |
Tipe |
Unit |
Harga Beli Perbox |
Harga Jual Perbox |
Nilai Persediaan |
|
1 |
Sabun Mandi |
LUX |
20 |
225.000 |
275.000 |
4.500.000 |
|
2 |
Sabun Mandi |
DOVE |
25 |
202.500 |
250.000 |
5.062.500 |
|
3 |
Sabun Mandi |
LEKBOY |
30 |
232.500 |
285.000 |
6.975.000 |
Transaksi Selama Bulan Mei 2025
|
Tanggal |
Transaksi |
|
2 Mei |
Dibeli 25 Box sabun LUX dan 20 Box sabun DOVE sesuai harga beli secara kredit. |
|
8 Mei |
Dijual 10 Box sabun DOVE dan 5 Box Lekboy secara kredit. |
|
12 Mei |
Dibayar utang tanggal 2 Mei |
|
18 Mei |
Diterima Pelunasan tanggal 8 Mei |
|
20 Mei |
Dijual 12 Box sabun LUX dan 5 Box sabun DOVE secara kredit. |
ü Maka Jawaban Penjurnalan selama bulan mei 2025 adalah sebagi berikut:
|
Tanggal |
Keterangan |
Debit |
Kredit |
|
2 Mei |
Pembelian |
9.675.000 |
|
|
Hutang |
|
9.675.000 |
|
|
8 Mei |
Piutang |
3.925.000 |
|
|
Penjualan |
|
3.925.000 |
|
|
12 Mei |
Hutang |
9.675.000 |
|
|
Kas |
|
9.675.000 |
|
|
18 Mei |
Kas |
3.925.000 |
|
|
Piutang |
|
3.925.000 |
|
|
20 Mei |
Piutang |
4.550.000 |
|
|
Penjualan |
|
4.550.000 |
ü Perhitungan Nilai Persediaan
a. Mutasi Pembelian
|
Mutasi |
Sabun Lux |
Sabun Dove |
Sabun Lekboy |
|||
|
Persediaan Awal |
20 |
225.000 |
25 |
202.500 |
30 |
232.500 |
|
Pembelian |
|
|
|
|
|
|
|
2 Mei 2025 |
25 |
225.000 |
20 |
202.500 |
|
|
|
Jumlah Pembelian |
25 |
|
20 |
|
|
|
b. Mutasi Penjualan
|
Mutasi |
Sabun Lux |
Sabun Dove |
Sabun Lekboy |
|||
|
Penjualan |
|
|
|
|
|
|
|
8 Mei 2025 |
|
|
10 |
250.000 |
5 |
285.000 |
|
20 Mei 2025 |
12 |
275.000 |
5 |
250.000 |
|
|
|
Jumlah Penjualan |
12 |
|
15 |
|
5 |
|
c. Rekapitulasi Persediaan
|
Mutasi |
LUX |
DOVE |
LEKBOY |
|
Persediaan Awal |
20 |
25 |
30 |
|
Pembelian |
25 |
20 |
|
|
Barang Siap Dijual |
45 |
45 |
30 |
|
Penjualan |
(12) |
(15) |
(5) |
|
Persediaan Akhir |
33 |
30 |
25 |
Sehingga Persediaan akhir untuk sabun tiap merek adalah
1. Sabun Mandi Lux = 33 x Rp. 225.000 = Rp. 7.425.000
2. Sabun Mandi Dove = 30 x Rp. 202.500 = Rp. 6.075.000
3. Sabun Mandi Lekboy = 25 x 232.500 = Rp. 5.812.500
b) Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)
Adalah metode pengelolaan persediaan dengan cara mengeluarkan barang yang pertama kali masuk pada Gudang persediaan sehingga tidak akan cepat rusak dan kadaluarsa. Oleh karena itu jumlah stok yang ada adalah stok terbaru yang ada di harga pasar pada saat itu juga.
c) Metode Rata-rata sederhana (Simple Average)
Merupakan Metode yang perhitungan persediaannya dengan cara mengalikan kuantitas persediaan yang tersedia dengan harga rata-rata perunit barang. Harga rata-rata diketahui dengan cara membagi total persediaan dengan kuantitas persediaan yang ada.
d) Metode Rata-rata tertimbang
Merupakan metode perhitungan pengelolaan persediaan yang menyeluruh untuk memverifikasi persediaan yang tersedia. Dalam metode ini nilai persediaan akhir diperoleh dengan cara mengalikan kuantitas persediaan yang tersedia dengan harga rata-rata perunit barang.
2. Sistem Pencatatan Perpetual
Merupakan system pencatatan Dimana dalam pencatatan transaksi penjualannya memperhitungkan atau menjurnal persediaan dan juga Harga Pokok Penjualannya. Sehingga diakhir periode tidak usah melakukan perhitungan kembali persediaan akhir atau stock opname.
Adapun ciri dari system pencatatan ini adalah:
ü Mutasi atau keluar masuknya persediaan akan terlihat dalam kartu persediaan
ü Pada akhir periode transaksi entitas tidak perlu melakukan stock opname atau perhitungan kembali saldo persediaan yang tersisa.
Berikut adalah contoh jurnal system pencatatan perpetual:
Jurnal Penjualan:
Kas di Bank / Piutang Rp. XXX
Penjualan Rp. XXX
HPP Rp. XXX
Persediaan Rp. XXX
Ada dua metode yang dapat digunakan untuk menghitung persediaan menggunakan system perpetual diantaranya Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO), dan Rata-rata Bergerak (Moving Average). Berikut penjelasannya:
a) Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)
Merupakan pencatatan dimana menghitung akhir persediaan dengan cara mengansumsikan barang masuk yang pertama adalah barang yang dijual terlebih dahulu. Jika barang yang akan dikeluarkan kurang maka bisa mengambil dari persediaan barang berikutnya. Oleh karena itu perlu diperhatikan bahwa HPP barang yang masuk harus sama dengan HPP barang yang keluar.
b) Metode Rata-rata bergerak (Moving Average)
Merupakan metode Dimana dalam harga satuan pada kolom akhir diambil dari mengalikan kuantitas persediaan dengan harga satuan ditambah dengan kuantitas pembelian dikali dengan harga satuan di bagi jumlah kuantitas persediaan. Perlu diperhatian untuk harga satuan akan berbeda beda tergantung kepada harga satuan pembelian persediaan barang tersebut.
Contoh Kasus:
Transaksi Bulan Mei 2025
|
Tanggal Transaksi |
Transaksi |
|
1 Mei |
Persediaan Mei Televisi 50 Unit @ Rp. 1.900.000 |
|
2 Mei |
Dijual Televisi 15 Unit @ Rp. 2.400.000 syarat 2/10 n/30 |
|
5 Mei |
Dibeli Televisi 30 Unit @ Rp. 1.950.000 syarat 1/10 n/30 |
|
9 Mei |
Dijual Televisi 18 Unit @ Rp. 2.450.000 syarat 2/10 n/30 |
|
15 Mei |
Dijual Televisi 20 Unit @ Rp. 2.450.000 syarat 2/10 n/30 |
Jawab:
ü Jurnal Pembelian
|
Tanggal |
Invoive |
Kreditur |
Term |
Debit |
Kredit |
|
Persediaan |
Piutang |
||||
|
5 Mei |
|
|
1/10 n/30 |
58.500.000 |
58.500.000 |
|
Jumlah |
58.500.000 |
58.500.000 |
|||
ü Jurnal Penjualan
|
Tanggal |
Invoice |
Debitur |
Term |
Debit |
Kredit |
||
|
Piutang |
HPP |
Penjualan |
Persediaan |
||||
|
2 Mei |
|
|
2/10 n/30 |
36.000.000 |
28.500.000 |
36.000.000 |
28.500.000 |
|
9 Mei |
|
|
2/10 n/30 |
44.100.000 |
34.615.386 |
44.100.000 |
34.615.386
|
|
15 Mei |
|
|
2/10 n/30 |
49.000.000 |
38.691.380 |
49.000.000 |
38.691.380 |
ü Kartu Persediaan metode Moving Average
|
Tgl |
Doc |
Pembelian |
Penjualan |
Saldo |
||||||
|
Unit |
Hrg |
Jumlah |
Unit |
Hrg |
Jumlah |
Unit |
Hrg |
Jumlah |
||
|
1 |
|
|
|
|
|
|
|
50 |
1.900.000 |
95.000.000 |
|
2 |
|
|
|
|
15 |
1.900.000 |
28.500.000 |
35 |
1.900.000 |
66.500.000 |
|
5 |
|
30 |
1.950.000 |
58.500.000 |
|
|
|
65 |
1.923.077 |
125.000.000 |
|
9 |
|
|
|
|
18 |
1.923.077 |
|
47 |
1.923.077 |
90.384.619 |
|
15 |
|
|
|
|
20 |
1.923.077 |
|
27 |
1.923.077 |
51.923.079 |
Catatan: ada perbedaaan harga saldo pada tanggal 2 Mei ke tanggal 5 Mei cara perhitungannya adalah sebagai berikut:
Nilai saldo persediaan tanggal 5 Mei 2025 =
= 1.923.077 (Pembulatan)
SECARA UMUM BERIKUT ADALAH PERBEDAAN ANTARA PENCATATAN PERSEDIAAN SYSTEM PERIODIC DENGAN SYSTEM PERPETUAL.
|
Keterangan |
Sistem Periodik |
Sistem Perpetual |
|
Penggunaan buku pembantu |
Tidak ada hanya pencatatan |
Menggunakan kartu persediaan barang dagang |
|
Pencatatan transaksi |
Hanya pada saat pembelian |
Pada saat pembelian dan penjualan barang dagang |
|
Nama akun |
Pembelian |
HPP & Persediaan barang dagang |
|
Penyesuaian akhir periode |
Perhitungan fisik / Stock Opname |
Tidak melakukan penyesuaian akhir |
Sumber:
- Harti, Dwi. Buku Erlangga, Akuntansi Keuangan. SMK/MAK Kelas XI Fase F
- PSAK 14
- https://anyflip.com/owsnw/ocxb/basic (Diakses 31 Mei 2025)

0 Komentar
Terimakasih telah mampir yah..