SISTEM DAN METODE PENILAIAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG P3

 

SISTEM DAN METODE PENILAIAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG

 

Kelas                           : XI Akuntansi (Fase F)

Fasilitator                   : Indra Setia Nugraha,S.Ak

Kompetensi Dasar      : Menganalisis, mencatat, dan menilai persediaan barang dagang menggunakan berbagai sistem pencatatan dan metode penilaian, serta memahami dampaknya terhadap laporan keuangan.

 

A.    Konsep Dasar Persediaan Barang Dagang

Pengertian: Aset lancar yang dimiliki untuk dijual kembali dalam kegiatan usaha normal.

Tujuan Penilaian Persediaan:

1.     Menentukan Harga Pokok Penjualan (HPP) di Laporan Laba Rugi.

2.     Menentukan Nilai Persediaan Akhir di Neraca.

3.     Sebagai dasar pengendalian persediaan dan pengambilan keputusan.

 

B.    Sistem Pencatatan Persediaan

1.     Sistem Periodik

ü  Pencatatan dilakukan secara insidental.

ü  Nilai persediaan dan HPP diketahui di akhir periode setelah stock opname.

ü  Akun Persediaan tidak diperbarui selama periode.

2.     Sistem Perpetual

ü  Pencatatan dilakukan secara terus-menerus.

ü  Nilai persediaan dan HPP diketahui setiap saat.

ü  Akun Persediaan dan HPP diperbarui untuk setiap transaksi.

3.     Metode Penilaian Persediaan

a.      FIFO (First-In, First-Out)

ü  Barang pertama yang dibeli adalah barang pertama yang dijual.

ü  Persediaan akhir terdiri dari barang terakhir yang dibeli.

ü  Cocok untuk barang yang mudah kedaluwarsa.

b.     LIFO (Last-In, First-Out)

ü  Barang terakhir yang dibeli adalah barang pertama yang dijual.

ü  Persediaan akhir terdiri dari barang pertama yang dibeli.

ü  Tidak diperbolehkan menurut PSAK terkini.

c.      Rata-Rata (Average)

ü  Nilai persediaan dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang.

ü  Setiap pembelian baru akan mengubah harga rata-rata.

ü  Cocok untuk barang yang homogen.

 


C.    Contoh Kasus

Profil Perusahaan       : Toko “Indra Jaya” 

Barang                        : Buku Tulis 

Periode                        : Maret 2025 

 

Transaksi Maret 2025:

1.  1 Mar: Persediaan awal 100 unit @Rp 3.000 = Rp 300.000

2.  5 Mar: Pembelian 200 unit @Rp 3.200 = Rp 640.000

3.  10 Mar: Penjualan 150 unit @Rp 5.000 = Rp 750.000

4.  15 Mar: Pembelian 300 unit @Rp 3.500 = Rp 1.050.000

5.  20 Mar: Penjualan 250 unit @Rp 5.500 = Rp 1.375.000

6.  25 Mar: Pembelian 100 unit @Rp 3.600 = Rp 360.000

7.  31 Mar: Stock opname menunjukkan persediaan fisik 295 unit

 

 PEMBAHASAN LENGKAP

1.     SISTEM PERPETUAL

ü  Metode FIFO (Perpetual)

Tanggal

 

Pembelian

 

Penjualan

 

Saldo

 

Total

Qty

Harga

Total

Qty

Harga

Total

Qty

Harga

1 Mar

 

 

 

 

 

 

100

3.000

300.000

5 Mar

200

3.200

640.000

 

 

 

100

200

3.000

3.200

300.000

640.000

10 Mar

 

 

 

100

50

3.000

3.200

300.000

160.000

150

3.200

480.000

15 Mar

300

3.500

1.050.000

 

 

 

150

300

3.200

3.500

480.000

1.050.000

20 Mar

 

 

 

150

100

3.200

3.500

480.000

350.000

200

3.500

700.000

25 Mar

100

3.600

360.000

 

 

 

200

100

3.500

3.600

700.000

360.000

Hasil:

a)     Persediaan Akhir: 295 unit? (Terdapat selisih 5 unit, akan dibahas di akhir)

b)     200 unit @Rp 3.500 = Rp 700.000

c)     95 unit @Rp 3.600 = Rp 342.000

d)     Total = Rp 1.042.000

e)     HPP: (300.000 + 160.000) + (480.000 + 350.000) = Rp 1.290.000

 

ü  Metode LIFO (Perpetual)

Tanggal

 

Pembelian

Penjualan

Saldo

Total

Qty

Harga

Total

Qty

Harga

Total

Qty

Harga

1 Mar

 

 

 

 

 

 

100

3.000

300.000

5 Mar

200

3.200

640.000

 

 

 

100

200

3.000

3.200

300.000

640.000

10 Mar

 

 

 

150

3.200

480.000

100

50

3.000

3.200

300.000

160.000

15 Mar

300

 

3.500

1.050.000

 

 

 

100

50

300

3.000

3.200

3.500

300.000

160.000

1.050.000

20 Mar

 

 

 

250

3.500

875.000

100

50

50

3.000

3.200

3.500

300.000

160.000

175.000

25 Mar

100

3.600

360.000

 

 

 

100

50

50

100

3.000

3.200

3.500

3.600

300.00

160.000

175.000

360.000

Hasil:

a)     Persediaan Akhir: 295 unit?

b)     100 unit @Rp 3.000 = Rp 300.000

c)     50 unit @Rp 3.200 = Rp 160.000

d)     50 unit @Rp 3.500 = Rp 175.000

e)     95 unit @Rp 3.600 = Rp 342.000

f)      Total = Rp 977.000

g)     HPP: 480.000 + 875.000 = Rp 1.355.000

 

ü  Metode Rata-Rata (Perpetual)

Tanggal

 

Pembelian

 

Penjualan

 

Saldo

 

Total

Qty

Harga

Total

Qty

Harga

Total

Qty

Harga

1 Mar

 

 

 

 

 

 

100

3.000

300.000

5 Mar

200

3.200

640.000

 

 

 

300

3.133

940.000

10 Mar

 

 

 

150

3.133

470.000

150

3.133

470.000

15 Mar

300

3.500

1.050.000

 

 

 

450

3.378

1.520.000

20 Mar

 

 

 

250

3.378

844.500

200

3.378

675.500

25 Mar

100

3.600

360.000

 

 

 

300

3.452

1.035.500

Hasil:

ü  Persediaan Akhir: 295 unit?

ü  295 unit @Rp 3.452 = Rp 1.018.340

ü  HPP: 470.000 + 844.500 = Rp 1.314.500

 

2.     SISTEM PERIODIK

Data yang diperlukan:

- Total Unit Tersedia = 100 + 200 + 300 + 100 = 700 unit

- Total Unit Terjual = 150 + 250 = 400 unit

- Persediaan Akhir Fisik = 295 unit (Terdapat selisih 5 unit, kemungkinan barang hilang/rusak)

 

ü  Metode FIFO (Periodik)

Barang terjual pertama berasal dari pembelian tanggal 1 Mar dan 5 Mar.

Persediaan Akhir berasal dari pembelian terakhir:

- 100 unit @Rp 3.600 = Rp 360.000

- 195 unit @Rp 3.500 = Rp 682.500

- Total Persediaan Akhir = Rp 1.042.500

 

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih - Persediaan Akhir

HPP = 300.000 + (640.000 + 1.050.000 + 360.000) - 1.042.500 

HPP = 300.000 + 2.050.000 - 1.042.500 = Rp 1.307.500

 

ü  Metode LIFO (Periodik)

Barang terjual pertama berasal dari pembelian tanggal 25 Mar dan 15 Mar.

Persediaan Akhir berasal dari pembelian pertama:

- 100 unit @Rp 3.000 = Rp 300.000

- 195 unit @Rp 3.200 = Rp 624.000

- Total Persediaan Akhir = Rp 924.000

HPP = 300.000 + 2.050.000 - 924.000 = Rp 1.426.000

ü  Metode Rata-Rata (Periodik)

Harga Rata-Rata Tertimbang = Total Nilai Pembelian / Total Unit 

= (300.000 + 640.000 + 1.050.000 + 360.000) / 700 unit 

= 2.350.000 / 700 = Rp 3.357 per unit

Persediaan Akhir = 295 unit × Rp 3.357 = Rp 990.315 

HPP = 300.000 + 2.050.000 - 990.315 = Rp 1.359.685

 

3.     REKAPITULASI DAN ANALISIS

SISTEM

METODE

PERSEDIAAN AKHIR

HPP

LABA KOTOR

Perpetual

FIFO

Rp 1.042.000

Rp 1.290.000

Rp 835.000

 

LIFO

Rp 977.000

Rp 1.355.000

Rp 770.000

 

Rata-Rata

Rp 1.018.340

Rp 1.314.500

Rp 810.500

Periodik

FIFO

Rp 1.042.500

Rp 1.307.500

Rp 817.500

 

LIFO

Rp 924.000

Rp 1.426.000

Rp 699.000

 

Rata-Rata

Rp 990.315

Rp 1.359.685

Rp 765.315

Total Penjualan = 750.000 + 1.375.000 = Rp 2.125.000 

Laba Kotor = Penjualan - HPP

 

Analisis:

1. Dampak Inflasi: Dalam kondisi harga naik (3.000 → 3.600):

   - FIFO menghasilkan HPP lebih rendah, laba lebih tinggi, dan persediaan akhir lebih tinggi.

   - LIFO menghasilkan HPP lebih tinggi, laba lebih rendah, dan persediaan akhir lebih rendah.

 

2. Perbedaan Sistem:

   - Perpetual vs Periodik: Nilai HPP dan persediaan bisa berbeda karena timing pengakuan.

   - Perpetual lebih akurat untuk pengambilan keputusan.

 

3. Selisih Persediaan:

   - Secara teori: 700 unit - 400 unit terjual = 300 unit

   - Stock opname: 295 unit → Selisih 5 unit (barang hilang/rusak)

   - Perlakuan: Diakui sebagai beban kerugian persediaan.

 

4.     JURNAL PENYESUAIAN UNTUK SISTEM PERIODIK

Data: Menggunakan metode Rata-Rata Periodik

Ikhtisar L/R                                                     Rp 2.350.000

    Persediaan Awal (100x3.000)                                             Rp 300.000

    Pembelian (640.000+1.050.000+360.000)                         Rp 2.050.000

 

Persediaan Akhir (295x3.357)                        Rp 990.315

    Ikhtisar L/R                                                                         Rp 990.315

 

HPP = 2.350.000 - 990.315 = Rp 1.359.685

 

Referensi:

- PSAK 14: Persediaan

- Buku Teks Akuntansi Keuangan Menengah

Posting Komentar

0 Komentar